Jumat, 08 Oktober 2010

Bedanya JIN, SYAITHON dan IBLIS

Jin, Setan, Iblis, ketiganya adalah makhluk ghaib yang orang sering  salah kaparah mendefinisikannya. Sebenarnya ketiganya berbeda. Insya  Allah di bawah ini akan dijelaskan mengenai ketiganya

Dalam kitab Ahkamul Qur'an karangan Qurthubi  dijelaskan sebagai berikut : Para ulama berbeda pendapat mengenai asal-usul Jin.  Hasan al-Basri mengatakan bahwa Jin keturunan Iblis, seperti manusia  keturunan Adam. Dari dua kelompok ini ada yang beriman dan ada yang  kafir, keduanya juga berhak mendapatkan pahala dan siksaan dari  Allah. Mereka yang beriman dari keduanya adalah kekasih Allah dan mereka  yang kafir adalah Setan.

Ibnu Abbas berpendapat : Jin adalah  keeturunan Jann, mereka bukan setan, mereka bisa mati dan mereka ada  yang beriman dan ada yang kafir. Sedangkan setan adalah anak Iblis  mereka tidak akan mati kecuali bersama-sama Iblis.

Dalam tafisr  surat An-Nas, Qatadah berkata : Sesungguhnya dari jin dan manusia  terdapat setan-setan. Ini mirip dengan pendapat Hasan Basri di atas. Dalam  surah a-An'am (112) dikatakan "Dan demikian lah Aku jadikan untuk  setiap nabi musuh dari setan-setan manusia dan jin".

Dalam buku Hayatul Hayawan al-Kubra karangan Dumairi : semua jin adalah keturunan  Iblis. Namun dikatakan juga bahwa Jin merupakan satu rumpun, sedangkan  Iblis adalah satu dari mereka. Jin juga mempunyai keturunan seperti  dijelaskan dalam al-Qur'an surah al-Kahf (55) "Apakah kalian akau  menjadikan mereka (jin) dan keturunanya sebagai kekasih selain Aku  (Allah) padahal mereka adalah musuh kalian". Mereka yang kafir dari kaum  jin disebut setan.

Dalam kitab Akaamu-l-Marjan fi Ahkamil Jan karangan Syibli (hal. 6) disebutkan bahwa jin mencakup malaikat dan  mahluk lainnya yang kasat mata.Sedangkan setan adalah jin yang  durhaka dan kafir, mereka adalah anak-anak Iblis.

Jauhari  berkata :Semua yang durhaka dan membangkang dari manusia, jin dan hewan  disebut setan. Orang Arab menyebut ular sebagai setan.

Yang  terpenting bagi umat manusia adalah meyakini bahwa setan adalah musuh  mereka dan selalu berusaha untuk menyesatkannya dan menjauhkannya dari  jalan Allah. Kita dilarang menyembah atau menuruti kata setan.

Dalam  surah Yasin (60) dikatakan "Bukankah Aku(Allah) telah membuat perjanjian  kepadamu hai bani Adam agar kalian tidak menyembah setan, mereka adalah  musuh yang paling jelas".

Demkian juga dalam surah Fathir (6) "Sesungguhnya setan adalah musuh kalian maka jadikanlah mereka musuh"

Dan banyak dalil-dalil yang mengingatkan kita agar hati-hati terhadap  tipu daya dan rayuan setan ini.

Wallohu a'lam bish showab.. ^_^

bagus rian nugraha - riyadhul jannah 

Jerat-jerat Syaithon

Tidaklah Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia dan seluruh makhluk-Nya dengan sia-sia dan tanpa ada tujuan. Dan tujuan Allah subhanahu wata’ala menciptakan manusia adalah untuk beribadah dengan mentauhidkan-Nya. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya (artinya): “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Tidaklah kehidupan ini akan berhenti pada apa yang kita lihat di dunia. Kehidupan dunia ini hanya sekedar batu loncatan dan sebagai perantara menuju kehidupan abadi. Masing-masing kita pasti akan kembali kepada-Nya dan mempertanggung jawabkan amalan di hari akhir nanti. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Sesungguhnya kepada Kamilah mereka kembali. Dan sungguh Kamilah yang akan menghisab mereka.” (Al Ghasyiyah: 25-26)

Para pembaca, Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam sebuah ayat-Nya (artinya): “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji?” (Al Ankabut: 1-2)

Dalam ayat ini Allah subhanahu wata’ala mengabarkan bahwa manusia pasti dan pasti akan diuji setelah dia menyatakan keimanannya. Mengapa Allah subhanahu wata’ala menguji kita? Apa hikmah di balik ujian Allah subhanahu wata’ala tersebut?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala (artinya):“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui mana orang-orang yang jujur dan mana orang-orang yang berdusta.” (Al Ankabut: 3)

Semua ini akan kita saksikan di hari pembalasan, di mana akan ditampakkan oleh Allah subhanahu wata’ala segala bentuk rahasia yang tidak ada seorangpun dapat mengelak pada hari itu. Di saat itu Allah subhanahu wata’ala berkata kepada sekalian manusia (artinya): “Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al Mu’minun: 115)

Di hari yang dahsyat itu, semua akan lepas dan pergi meninggalkan kita. Tidaklah seseorang akan memikirkan sesuatu kecuali hanya dirinya sendiri. Seorang ayah dan ibu akan lari meninggalkan sanak keluarganya, bahkan anaknya sekalipun tidak lagi mempedulikan orang tuanya. Mungkin ketika di dunia jika ada yang mengganggu mereka dengan kekuatan sebesar apapun, akan dibela dan dipertahankan kehormatannya sampai titik darah penghabisan. Tetapi di akhirat, mereka akan lupa semua itu.

Allah subhanahu wata’ala menggambarkan semua itu dalam ayat-Nya yang suci (artinya):“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu mempunyai urusan yang sangat menyibukkan.” (‘Abasa: 33-37)

Lalu di hari yang mengerikan itu, masing-masing akan ditanya oleh Allah subhanahu wata’ala tentang segala sesuatu yang telah diperbuat. Umurnya, untuk apa dihabiskan. Masa mudanya, untuk apa dipergunakan. Hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa digunakan. Serta ilmunya, untuk apa diamalkan.

Wahai saudaraku ini adalah suatu kepastian yang mesti akan terjadi. Supaya kita mengintrospeksi diri dan mulai mengevaluasi segala sesuatu yang telah dijalani selama ini. Sehingga ke depan, kita memiliki rambu-rambu dan isyarat yang dengannya dapat melangkah dengan tepat menuju ridha Allah subhanahu wata’ala.

Saudaraku yang semoga selalu dilindungi Allah subhanahu wata’ala. Dengan penuh hikmah, Allah subhanahu wata’ala menciptakan bagi manusia dua musuh besar, yang mengharuskan kita untuk mengenali dan mempelajari siapa kedua musuh tersebut. Bagaimana kekuatannya dan bagaimana pula makar jahatnya. Kalau tidak, maka kita akan hancur dipecundangi mereka.

Salah satu musuh bebuyutan tersebut adalah hawa nafsu yang bercokol dalam tubuh kita. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya): “Sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyuruh kepada kejelekan, kecuali hawa nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53)

Itulah hawa nafsu yang selalu, selalu, dan selalu memerintah dan mengajak kepada yang jelek. Dan musuh yang pertama ini sangat berbahaya bagi makhluk yang bernama manusia. Tidaklah dia dapat dikalahkan kecuali dari sekarang kita berniat dan berbuat untuk melawannya tanpa menunda-nunda.

Saudaraku seiman, musuh bebuyutan kedua yang tidak kalah dahsyatnya adalah Syaithan. Allah subhanahu wata’ala gambarkan tentangnya di dalam Al Qur’an (artinya): “Sesungguhnya syaithan adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh. Karena sesungguhnya syaithan-syaithan itu hanya mengajak golongannya agar meraka menjadi penghuni neraka yang menyala-menyala.” (Faathir: 6)

Coba perhatikan, dalam ayat ini, Allah subhanahu wata’ala memerintahkan untuk memposisikan dia sebagai musuh terdepan, sehingga kita dapat mempelajari bagaimana gerak-gerik, kekuatan, serta makar-makarnya, yang dengan itu kita bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapinya. Lalu, dari mana kita mendapatkan ilmu menghadapi musuh yang satu ini?

Maka tidak lain hanya Al Qur’an dan As Sunnah saja senjata terkuat untuk menghadapinya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Kitab Al Qur’an ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (Al Baqarah: 2)

Dan musuh yang satu ini tidak main-main, bahkan ia telah berhasil mengeluarkan ayah kita Adam beserta istrinya dari al jannah (surga). Seorang Nabi saja telah berhasil terkena bujukan dan rayuannya, apalagi orang yang bukan nabi. Dan ia pun telah bersumpah setelah Allah melaknatnya: (artinya) “…Dan syaithan telah menyatakan: ’Sungguh benar-benar aku akan mengambil dari hamba Engkau bagian yang telah ditentukan (untukku). Dan benar-benar aku akan menyesatkan mereka, dan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka.” (An Nisaa’: 118-119)

Kalau ada seseorang memiliki rumah yang bagus, maka ia akan mempelajari bagaimana teknis. Sehingga rumahnya dipagari dengan rapi dan kuat. Melindungi diri dan keluarganya kemudian hartanya dari para pencuri. Padahal, kalaupun hartanya dicuri, mungkin yang hilang hanya beberapa rupiah saja, yang semua itu tidaklah sebanding jika iman yang hilang darinya.

Allah subhanahu wata’ala mengenalkan kepada kita tentang siapa sebenarnya makhluk terlaknat yang kita diperintahkan untuk menjadikannya sebagai musuh utama. Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala mengkhabarkan lagi tentang iblis ketika ia meminta kepada Allah: (artinya) “Ya Allah, tundalah kematianku sampai hari kebangkitan.” (Al A’raf: 14)

Untuk apa iblis meminta kepada Allah subhanahu wata’ala untuk ditunda kematiannya? Tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka memimpin pasukan dan bala tentaranya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar. Subhanallah, kepada siapakah iblis memohon permintaannya? Apakah ia meminta kepada Jibril? Tidak!!! Ia meminta kepada Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Pemberi, karena ia tahu bahwa Jibril bahkan seluruh malaikat dan makhluk yang lainnya tidak mampu menunda kematiannya.

Iblis bukanlah makhluq yang tidak mengenal Allah subhanahu wata’ala, atau tidak yakin akan keberadaan Allah subhanahu wata’ala, bahkan ia meminta dan memohon langsung kepada Allah subhanahu wata’ala. Tetapi mengapa iblis menjadi kafir dan dilaknat oleh Allah Yang Maha Pengampun? Yang menyebabkan ia menjadi makhluk terlaknat dan dinyatakan kafir bahkan pimpinan orang-orang kafir adalah karena sifat sombong dan takabbur yang ada padanya, sehingga karenanya ia tidak taat kepada perintah Allah dan cenderung mengikuti hawa nafsunya.

Lalu, bagaimana cara iblis menghalangi Bani Adam masuk ke rel Shirotol Mustaqim (jalan yang lurus)? Apakah dengan dibunuh satu persatu? Atau …. Bagaimana???

Tidak! Kalau caranya seperti itu iblis merasa rugi, karena ia akan kehilangan teman, sebelum berhasil membujuk mereka untuk tinggal bersamanya di Jahannam. Tetapi iblis menyatakan: “Kemudian aku akan mendatangi mereka dari arah depan dan belakang mereka, dan dari arah kanan dan kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Al A’raf: 16)

Iblis akan selalu menggambarkan di benak manusia seolah-olah ada layar yang selalu ditampakkan oleh iblis berupa kegagalan, kehancuran, dan kemiskinan ketika ia akan menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala di dunia.

Dan di antara manuver jahatnya, dia menebarkan syubhat (kerancuan) dalam perkara agama di mata bani adam, sehingga seseorang akan menganggap yang haq adalah batil dan yang batil adalah haq, yang halal adalah haram dan sebaliknya yang haram adalah halal, yang salah adalah sesuatu yang baik dan benar, dan sebaliknya yang benar akan digambarkan adalah sebuah perkara yang batil.

Inilah sifat yang Allah subhanahu wata’ala gambarkan dalam Al Qur’an (artinya): “Katakanlah: ‘apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (Al Kahfi: 103-104)

Masing-masing syaithan memiliki data tentang keadaan dan kelemahan seseorang, sehingga ia akan mengkhabarkan dan memberikan informasi kepada yang lainnya tentang kelemahannya, agar mereka dapat dengan mudah mendatanginya dari arah tersebut. Jika kelemahannya tersebut ada pada keluarganya, maka mereka akan menggoda dan mengganggu melalui keluarganya.

Oleh karena itu, masing-masing harus mengetahui kondisi dirinya dan kelemahan yang ada padanya agar dapat mempersiapkan diri dari serangan-serangan syaithan yang akan menjerumuskan kita kearah kebinasaan dengan mempelajari ilmu agama sejak dini.

Saudaraku yang mulia, kalau kita ingin bertempur, maka kita harus tahu dimana letak kekuatan lawan, apakah pada kekuatan darat, laut ataukah udaranya. Kalau kekuatannya tersebut ada pada pasukan udara, maka kita harus bersiap-siap mengahadapinya dari arah udara. Seandainya kita tidak tahu bagaimana kekuatan musuh, maka kita akan habis dilalap oleh pasukan musuh tersebut. Allah subhanahu wata’ala telah menyebutkan bagaimana kekuatan dan makar-makar syaithan. Tinggal, maukah kita mempelajari dan mengenal kekuatan lawan kita ini?

Dan diantara manuvernya, ia akan mendatangi manusia dari pintu syahwat dengan mengajak agar dia cenderung melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam. Jika datang seseorang menasihatinya dari perbuatan yang dilarang Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan menjawab: “Wah sulit, yang haram saja sulit apalagi yang halal”. “Yang Jujur hancur.” Lihat saudaraku, syaithan telah berhasil masuk ke pintu syahwatnya. Dia telah memenuhi permintaan kekasihnya untuk melakukan ini dan itu dengan jalan yang tidak Allah subhanahu wata’ala halalkan.

Terkadang pula kita membiarkan bahkan mengajarkan anak dan keluarga kita untuk meniru gaya dan cara hidup orang-orang kafir. Jangan coba-coba menyalahkan anak dan keluarga kita kalau akhlak mereka menjadi tidak baik, karena didikan yang diberikan tanpa sedikitpun tersentuh dengan nilai-nilai Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Mereka hanya tahu dengan nama-nama bintang film, tetapi ketika mereka ditanya siapa Umar Bin Khathab, mereka hanya tercengang dan bengong karena tidak tahu siapa beliau. Sejak kecil mereka dicekoki dengan nyanyian dan tari-tarian. Sehingga jangan salahkan, jika setelah besar mereka kosong dari akhlak yang mulia.

Seorang penyair berkata: “Jika bergaul dengan suatu kaum pilihlah yang terbaik, Hindarilah yang hina karena kehinaannya membuatmu hina”.

Wahai saudaraku….masih ada waktu untuk mulai berbenah diri dan kembali kepada Allah subhanahu wata’ala. Karena sesungguhnya Dia adalah Rabb Yang Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya, jauh melebihi sayangnya seorang ibu terhadap anaknya.

Tidak ada ungkapan yang lebih pantas diberikan kecuali dengan mengingatkan sebuah sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
“Hendaklah kalian saling memberikan hadiah, niscaya kalian akan saling menyayangi.” (HR. Malik dalam Al Muwaththa’, no. 1731)

Sebaik-baik hadiah yang diberikan seseorang kepada saudara seagamanya adalah nasihat yang menjadi bekal baginya di dunia dan simpanan di akhirat kelak.

Semoga Allah subhanahu wata’ala selalu memberi taufiq-Nya kepada kita agar selalu di atas kebaikan dan dihindarkan dari segala kejahatan. Amin.

Sampai Kapan Kelalaian Ini Berakhir?

Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling. (Al Anbiyaa’: 1)

Siapa saja yang memperhatikan keadaan manusia sekarang ini, niscaya akan menemukan kesamaan keadaan mereka dengan ayat di atas. Anda akan melihat mereka lalai terhadap akhirat, lalai terhadap kewajiban agama, lalai terhadap fitrah mereka yang mana mereka diciptakan untuk beribadah kepada-Nya. Mereka rela memeras otak dan tenaganya demi mendapatkan dunia dan perhiasannya, namun untuk agama terasa berat memerasnya. Yang lebih menyedihkan lagi adalah mereka mau mengerjakan kewajiban agama bila ujung-ujungnya mereka mendapatkan dunia –‘iyaadzan billah-,

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan–Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan (terjemah Huud: 15-16).

Orang yang seperti ini kata Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ وَعَبْدُ الْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

“Celaka hamba dinar, hamba dirham dan hamba khamiishah (pakaian mewah), jika diberi ia senang, jika tidak ia marah, celakalah ia dan tersungkurlah, kalau terkena duri semoga tidak tercabut.” (HR. Bukhari)

Semua aktifitas mereka didasari karena dunia, mereka cinta kepada seseorang karena dunia meskipun orang yang dicintainya adalah orang kafir, bencipun karena dunia meskذipun orang yang dibencinya adalah orang mukmin, bertengkar karena dunia, bahkan karena dunia mereka tinggalkan perintah Rabb mereka

Lihat! Karena urusan dunia mereka rela meninggalkan shalat berjama’ah, karena pertandingan sepak bola mereka rela mengorbankan harta dan tenaga adapun untuk berinfak dan bersedekah berat rasanya, karena olahraga mereka rela meninggalkan shalat, karena pentas musik mereka rela bermaksiat, karena kenikmatan yang rendah inikah mereka rela meninggalkan perintah Rabb mereka yang telah mengaruniakan bermacam-macam nikmat?, Sampai kapankah kelalaian ini berakhir???

Untuk rapat ada waktu, untuk olahraga ada waktu, untuk bisnis ada waktu, untuk jalan-jalan ada waktu, untuk semuanya ada waktu namun untuk membaca Al Qur’an, menghadiri majlis ilmu syar’i, shalat berjama’ah, mengerjakan kewajiban agama dan mengerjakan amalan sunat ma’af “TIDAK ADA WAKTU”.Sampai kapan kelalaian ini berakhir???
Kita lihat di antara mereka amat pandai dan cerdas terhadap urusan dunia, namun tidak pandai menggunakan akalnya untuk mencari hal yang bermanfa’at buat akhiratnya,Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Ar Ruum: 7)

Penyair mengatakan :
,يَا مُتْعِبَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِرَاحَتـِهِأَقْبِلْ عَلَى الرُّوْحِ وَاْستَكْمِلْ فَضَائِلَهَاأَتْعَبْتَ جِسْمَكَ فِيْمَا فِيْهِ خُسْــرَانٌفَأَنْتَ بِالرُّوْحِ لَا بِالْجِسْمِ إِنْسَــانٌ

Hai kamu yang memeras tenaga, berapa banyak tenaga yang kamu keluarkan,Sudah, beralihlah memperbaiki rohani anda dan kejarlah keutamaan,Apakah kamu akan tetap terus memeras tenaga untuk hal yang ada kerugian di dalamnya,Karena kamu sebagai manusia karena ruh, bukan badan.

Alangkah semangatnya mereka mengejar harta dan dunia, namun alangkah beratnya mereka melangkahkan kakinya memenuhi panggilan Tuhannya. Waktunya berlalu begitu saja tanpa faedah, bahkan penuh terisi dengan maksiat dan meninggalkan perintah.

Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.–Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, (Al Infithaar: 6-7)

Ia mengira perbuatannya itu mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan, padahal sebenarnya mendatangkan kesengsaraan sadar atau tidak sadar,

Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta” (Thaha: 124)

Kepada mereka ditujukan perkataan penyair yang bijak
,نَهَارُكَ يَا مَغْرُوْرٌ سَهْوٌ وَغَفْـلَةٌوَشُغْلُكَ فِبْمَا سَوْفَ تَكْرَهُ غِبَّهُوَلَيْـلُكَ نَوْمٌ وَالرَّدَى لَكَ لاَزِمٌكَذَلِكَ فِي الدُّنْيَا تَعِيْشُ الْبَهَائِمُ

Siangmu hai orang yang lalai adalah lupa dan tak sadar. Sibukmu hanya untuk hal-hal yang kelak kamu akan menyesali akibatnya, Malammu tidur, sudah layak kerugian menimpamu, Seperti itulah binatang hidup di dunia.

Dosa di matanya ibarat lalat menempel di hidung, ia lupa dan lalai kepada siapa sebenarnya ia berbuat maksiat.

Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? (Nuh: 13)

Di pagi dan siang hari dosa-dosa dijalaninya dari mulai dosa kecil hingga dosa besar. Ghibah (gosip), namimah (adu domba), dusta, menuduh orang lain menjadi hal yang biasa. Khianat, mengambil harta orang lain tanpa kerelaannya, menyakiti tetangga, memutuskan tali silaturrahim, bermusuhan menjadi bagian hidupnya. Sombong, ‘ujub (bangga diri), hasad dan ghisy (menipu orang) menjadi akhlaknya.

Mengumbar aurat bagi wanita dan memakai wewangian ketika keluar, mencukur habis janggut bagi laki-laki, memakai sutera dan perhiasan emas bagi laki-laki, memakai sarung atau celana isbal (melewati mata kaki tanpa alasan) maupun lainnya sudah terbiasa. Dosa kecil dan besar dilaluinya seakan-akan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa kecil,
 إِيَّاكُمْ وَمُحَقِّرَاتِ الذُّنُوْبِ فَإِنَّهُنَّ إِذَا يَجْتَمِعْنَ عَلىَ الرَّجُلِ حَتًَّى يُهْلِكَنَّهُ

“Jauhilah dosa-dosa yang dianggap kecil, karena sesungguhnya dosa-dosa itu bila berkumpul pada seorang hamba maka akan membinasakannya.” (HR. Ahmad, Shahihul Jami’ 2687)

Juga tidak pernah didengarnya perkataan ulama
,لاَصَغِيْرَةَ مَعَ اْلِاسْتِمْرَارِ وَلاََ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلاِسْتِغْفَارِ“

Tidak ada dosa kecil bila dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar bila diiringi dengan istighfar.

Dan tak pernah terlintas di hatinya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang dosa besar bahwa ia (dosa besar) dapat membinasakan dunia-akhirat (muubiqaat) yang di antaranya,
اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الشِّرْكُ بِاللَّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ وَالتَّوَلِّي يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلَاتِ

“Jauhilah oleh kalian tujuh dosa yang membinasakan”, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu ?” Beliau menjawab, “Syirk kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh wanita mu’minah yang baik-baik yang sudah menikah berzina.” (HR. Bukhari)

Ia tidak lagi sempat bertanya kepada dirinya “Apa akibat dari tindakannya itu?” “Apa yang akan terjadi setelah puas mengerjakan perbuatan itu?”

Apakah mereka masih saja lalai terhadap kematian? Apakah mereka masih saja lalai terhadap hisab, apakah mereka masih saja lalai terhadap kubur? Apakah mereka masih saja lalai terhadap neraka dan apakah mereka masih saja lalai terhadap ‘adzab cepat atau lambat???

Relakah mereka menanggung ‘adzab yang pedih hanya karena ingin mendapatkan keseanangan yang sesaat??? Sampai kapan kelalaian ini berakhir???
Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka) (Al Hijr: 3).


Yakni biarkan saja mereka menikmati hidupnya seperti halnya binatang, yang diurusnya hanya makan, minum dan kesenangan semata, kelak mereka akan mengetahui dan menyesali perbuatannya.


Pernahkah terlintas di hatinya hakikat kehidupan di dunia ini dan pernahkah terlintas di benaknya tujuan ia diciptakan di dunia ini???

أَمـَا وَاللهِ لَوْ عَلِمَ اْلأَنَامُ   # لِمـَا خُلِقُوْا لَمَا غَفَلُوْا وَنَامُوْالَقَدْ خُلِقُوْا لِمَا لَوْ أَبْصَرْتَهُ # مَمَاتٌ ثُمَّ قَـبْرٌثُمَّ حَشْـٌرعُيُوْنُ



قُلُوْبِهِمْ تاَهُوْا وَهَامُوْا  # وَتَوْبِيْخٌ وَأَهْـوَالٌ عِظَـامٌ
Demi Allah, kalau sekiranya orang tahu Untuk apa mereka diciptakan, tentu mereka tidak lalai dan lelap tidur Kamu akan lihat di depannya Maut, kubur dan padang mahsyar, Mereka bingung tak tahu arah. Ada ancaman dan peristiwa yang menegangkan. Sebelum menjauh pembicaraan ini mari menengok kepada diri sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang lalai itu atau tidak, jalan mana yang kita tempuh, apakah jalan yang menghubungkan kepada keridhaan Allah ataukah jalan yang menghubungkan kepada kemurkaan Allah, perhatikanlah baik-baik hal ini, karena masalahnya serius, bukan main-main, jangan biarkan dirimu terjatuh, bangkit dan perbaikilah sekarang, lihatlah apakah sikapmu selama ini sejalan dengan perintah Allah atau sejalan denagan larangan-Nya.

Ketahuilah, agama ini tidak bisa dipisah-pisahkan, karena berpegang dengan sebagiannya dan meninggalkan yang lain masuk dalam kategori bermain-main dengan perintah Allah, dan ini tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim, bukankah Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman,
“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (Al Baqarah: 85).

Maka sudah selayaknya bagi seorang muslim antara di masjid dan di luar masjid tetap mempraktekkan ajaran Islam, bicaranya dibatasi dengan ajaran Islam dan sikapnyapun demikian, bicaranya tidak jauh dari kebaikan dan sikapnya tidak jauh dari nilai-nilai Islam.

Anda bisa memulai hal ini dari sekarang, tidak ada kata “Sudah terlanjur basah”, ini adalah putus asa, dan putus asa adalah akhlak orang-orang kafir.

Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.( Yusuf: 87)

Inginkah anda surga yang di dalamnya penuh kenikmatan, tidak ada kematian, tidak ada masa tua, tidak ada sakit dan tidak ada lagi penderitaan? Inginkah anda berkumpul bersama orang-orang yang mendapatkani kebaikan (para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih)? Maka ta’atilah Allah dan Rasul-Nya, jauhilah segala larangan dan kerjakanlah perintah sesuai kemampuan,

Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (An Nisaa’: 69)

Bandingkanlah dengan neraka yang di dalamnya penuh kesengsaraaan dan penderitaan, bila lapar diberi makan Zaqqum dan bila haus diberi nanah dan air mendidih,

Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai–Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas–Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya–Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman–Selain air yang mendidih dan nanah–Sebagai pambalasan yang setimpal–Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. (An Naba’: 21-28)

Semoga dengan ini anda semakin cinta untuk memperbaiki diri.Tempuhlah jalan ini dan jangan ragu!Hati-hatilah anda jangan sampai tertipu oleh dunia, betapapun terasa lama menikmati dan hidup di dunia ini, namun anda tetap akan pergi meninggalkannya dan maut akan mendatangi anda. Berapa banyak orang yang sebelumnya mengira akan hidup lama, namun ternyata besoknya atau lusanya telah pergi hanya tinggal namanya, orang-orang membawanya ke liang kubur yang akan menjadi nikmat atau ‘adzab baginya.

Sungguh sangat rugi dan rugilah dia, bila maut datang sedangkan dirinya belum sempat bertaubat, sungguh sangat rugi dan rugilah dia bila ada seruan bertaubat namun ia tidak mau menanggapi.



Berpikirlah matang-matang, persiapkan amalan karena di depanmu ada maut bersama sekaratnya dan kubur bersama kegelapannya.

Ingat, Rabbmu akan bertanya kepadamu tentang amalanmu besar maupun kecil, Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua—tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. (Al Hujr: 92-93)

Demi Allah, sungguh sangat tidak masuk akal bila ada seseaorang yang santai begitu saja, tidak beramal padahal di depannya ada peristiwa-peristiwa dahsyat, maut-kubur-kebangkitan dan pembalasan.

Sungguh, saat-saat sekarang ini adalah kesempatan bagi anda untuk beramal dan nanti tidak ada lagi saat beramal,
كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَباَئِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوْبِقُهَا

“Semua manusia berusaha, usahanya itu ada yang menyelamatkan dirinya (dari ‘adzab) dan ada juga yang malah yang menceburkan diri ke dalamnya.” (HR. Muslim)

Usaha yang menyelamatkan dirinya dari ‘adzab adalah iman dan amal shalih dan usaha yang menceburkan dirinya ke dalam’adzab adalah kufur dan kemaksiatan.

Lihat ke kanan dan ke kiri, berapa banyak orang yang dijemput kematian tanpa membawa amalan, lihat ke kanan dan ke kiri berapa banyak orang yang dijemput kematian dalam keadaan berbuat maksiat, ini semua akibat menunda-nunda taubat, thuulul amal (panjang angan-angan) dan menyangka masih jauh kematian.

Jangan sampai kamu seperti orang yang dijemput kematian baru menyadari akan kelalalaiannya, seraya mengatakan,
“Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)–Agar aku berbuat amal yang saleh yang telah aku tinggalkan” (Al Mu’minuun: 99-100)

akan tetapi,
Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Al Munaafiqun: 11)

Maraaji’: Al Ghaflah Al Muhlikah (Maktab ta’aawuni’y lid da’wah wal irsyaad), Uriid an atuub wa laakin (Syaikh M. bin Shalih Al Munajjid) dll.

Hati Sedih dan Pengobatannya Menurut Islam

Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- seringkali berlindung kepada Allah dan mohon dijauhkan dari rasa sedih dan susah. Beliau sering berdo’a :

اللَهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الهَمِّ وَالحُزْنِ, وَمِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ, وَمِنَ الجُبْنِ وَالبُخْلِ
"Wahai Allah, aku mohon lindung kepada-Mu dari rasa sedih dan susah, dari rasa lemah dan malas, dan dari sifat pengecut dan kikir"

Manusia hidup di dunia memang pasti merasa sedih dan susah, sebab sifat ini menjadi naluri manusia itu sendiri. Oleh karena ini, topik pembicaraan kita saat ini adalah tentang kesedihan secara umum, dan bagaimana Islam mengobatinya.

Setiap orang di dalam hidupnya pasti mengalami ujian dan cobaan. Manusia tetap manusia. Suatu ketika pasti diuji dan dicoba oleh Allah. Sebab memang demikianlah manusia diciptakan, sebagaimana firman Allah :  “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur  yang Kami hendak mengujinya , karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. (QS. Al-Insaan : 2). Allah -Subhanahu wa ta'ala- juga berfirman : “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”. (QS. Al-Balad : 4). Maksudnya, dia berada di dalam bersusah payah sejak dia dilahirkan.

Sejak lahir manusia sudah keluar menangis. Ini pertanda bahwa di dalam hidupnya dia harus menjawab segala macam ujian. Tidak semua yang diharapkan pasti diprolehnya. Di dalam kehidupan ini banyak hal-hal yang datangnya secara spontanitas. Tidak terduga sebelumnya, terkadang kehilangan orang yang dihormati dan dicintai. Terkadang kehilangan harta, keluarga, bahkan harus meninggalkan tanah air. Tabiat kehidupan di dunia sama pula dengan tabiat manusia itu sendiri yang serba penuh ujian dan kesedihan. Allah befirman di dalam Al-Qur’an : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”.(Al-Baqarah :155).

Kalau manusia pada umumnya pasti mendapatkan ujian, betapa pula orang mu’min yang pasti lebih besar pula dia untuk mendapatkan ujian. Sebab itu Rasulullah -Shalallahu alaihi wasalam- menegaskan di dalam haditsnya :

أَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ. يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. فَإِنْ كَانَ دِيْنُهُ صَلْبًا اشتَدَّ بَلاَءً. وَإِنْ كَانَ فِي دِيْنِهِِ رِقَّةٌ –يَعْنِي ضَعْفٌ- ابْتَلِي عَلَى قَدَرٍ دِيْنِهِ. وَمَايَزَالُ البَلاَءُ يَنْزِلُ بِالعَبْدِ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خِطِيْئَةٌ.
"Manusia yang paling hebat cobaannya adalah para nabi. Kemudian yang paling sepadan, dan seterusnya dan seterusnya. Seseorang dicoba sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, hebatlah cobaannya. Jika dalam agamanya lemah, dia dcoba sesuai ukuran agamanya. Cobaan selalu saja menimpa seorang hamba, sehingga dia berjalan di atas bumi tanpa menanggung sebuah dosapun."

Dari sinilah, Al-Qur’an yang diturunkan di Makkah, ketika orang-orang beriman menderita dengan berbagai macam cobaan dan penyiksaan kaum kafir ketika itu, maka diturunkanlah awal-awal surat Al-‘Ankabut yang berbunyi : “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan    mengatakan  : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”. (QS. Al-‘Ankabut :2). Adakah di sana iman tanpa cobaan dan ujian?! .” Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar. Dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS. Al-‘Ankabut : 3).

Begitulah di masa periode perjuangan Islam di Makkah. Adapun di Madinah, setelah umat Islam tinggal di sana dan mereka mengira selamat dari ujian dan cobaan, ternyata datang pula berbagai macam ujian yang bertubi-tubi. Datanglah perang Uhud, datang pula ujian perang Khandaq. Allah befirman : “Disitulah diuji orang-orang mu’min dan digoncangkan  dengan goncangan yang sangat”. (QS. Al-Ahzaab : 11)

Maka turunlah ayat : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu  sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan&nbsp"; sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”.(QS. Al-Baqarah : 214).

Mereka menunggu pertolongan Allah, dan merasa terlambat datangnya sehingga bertanya-tanya : “Bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Akhirnya Allah menegaskan : “Ingatlah! Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat!”. Kalau kita memperhatikan kehidupan para nabi, maka yang dapat kita ketahui adalah sarat dengan berbagai macam ujian dan cobaan yang beruntun.

Coba perhatikan kehidupan Nabiyullah Yusuf -Alaihissalam-. Di dalamnya sarat dengan peristiwa-peristiwa berdarah yang bertubi-tubi. Peristiwa demi peristiwa. Pertama kali saudara-saudara seayahnya sepakat untuk membunuhnya. Kata mereka : “Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah  supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik".(QS. Yusuf :9). Di antara mereka yang paling mempunyai rasa kasih sayang berkata : "Janganlah kamu bunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh beberapa orang musafir, jika kamu hendak berbuat.". (QS. Yusuf : 10).

Lalu mereka melemparkan Yusuf ke dalam jurang itu seperti halnya mereka melemparkan batu.

Kemudian cobaan berikutnya Nabi Allah yang mulia ini dijual seperti halnya mereka menjual kambing. Allah berfirman : “Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, yaitu beberapa dirham saja, dan mereka merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf “. (QS. Yusuf : 20).

Cobaan berikutnya Yusuf menjadi pelayan, seperti halnya kaum sahaya. Cobaan berikutnya, Yusuf dipenjara seperti halnya kaum penjahat, sehingga tinggal di penjara beberapa tahun lamanya. Ada pula cobaan berat, yaitu ujian digodanya isteri pembesar negeri itu. Begitulah rentetan ujian yang menimpa Nabiyullah Yusuf –Alaihissalam-.

Coba lagi kita menengok ujian yang menimpa Nabiyullah Musa –Alaihissalam-. Sejak dilahirkan beliau sudah harus menjawab ujian. Pada waktu itu dia telah siap untuk disembelih oleh Fir’aun. Kemudian Allah ilhamkan kepada ibunya agar ia menjatuhkannya ke sungai. Allah berfirman : “Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah  bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya  dari para rasul” (QS. Al-Qashash :7).

Maka kehidupan Musa -Alaihissalam- penuh dengan hal-hal yang menyedihkan. Demikianlah kehidupan para nabi, sehingga orang mu’min tidak sepantasnya menunggu kehidupan yang selamat dari setiap kesedihan dan kesusahan. Hidup serba selamat dari kesedihan dan kesusahan bukan tabiat kehidupan dunia., melainkan tabiaat kehidupan di surga, sedang di dunia belum ada surga.

Sebab itu, hendaklah orang mu’min bersabar menahan diri di dalam menerima segala beban hidup di dunia ini. Allah berfirman : “Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Ali ‘Imran :186)

Ujian, susah dan sedih adalah aturan-aturan rabbani yang pasti terjadi kepada setiap orang. Dan setiap orang akan teruji sesuai ukuran imannya.

Kesedihan dan kesusahan akan menimpa manusia atas beberapa faktor. Baik internal ataupun eksternal. Paling berbahaya adalah factor internal, akibat penyakit-penyakit yang ditimbulkan oleh kemajuan dunia kapitalis barat, sehingga menimbulkan keresahan dan kesedihan mendalam bahkan putus asa yang terkadang membuat orang bunuh diri.

Terbukti hal ini di Negara Swedia, sebuah negara barat yang terkenal paling sering terjadi orang bunuh diri, walaupun Negara tersebut adalah Negara paling mewah dan tingkat ekonominya paling tinggi. Bahkan di sana terkenal dengan jaminan kesejahteraan sosial bagi kaum lansia, tuna karya, kaum anak dan ibu. Namun demikian, masih saja bertindak dengan tindakan yang paling rendah, yaitu pergi dan bunuh diri apabila dirudung kesedihan, patah hati atau jatuh failid.Berbeda dengan kita umat Islam yang dilindungi oleh iman. Semoga Allah senantiasa melindungi kita.

Manusia sedih berdasarkan tingkat berfikirnya. Susahnya orang kecil tidak seperti susahnya orang besar. Karena itu, kesedihan itu kembalinya kepada faktor-faktor tertentu. Kesedihan dapat menimpa kepada segala lapisan orang, baik dia orang biasa, orang lemah keperibadian atau orang kuat dan sehat.

Tapi pada hakekatnya, ketika seseorang dihadapkan kepada ujian, pasti dia berfikir bagaimana cara menanggulanginya. Mampukan dia atau tidak. Biasanya, kalau tidak mampu dia menjadi resah dan sedih. Kesedihan inilah yang terkadang membuat dia terlempar jauh dari agama, serta tidak tahu bagaimana bertawakkal kepada Allah.

*Majalah Qiblati Vol I Edisi 1